0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆0xTANDA▸PHYGITAL STREETWEAR◆ORIGIN-LOG-1 AVAILABLE NOW◆ONE ENTITY·DUAL EXISTENCE◆
Back to Menu
Editorial// LOG_10

Apa yang Membuat Seseorang Membeli Barang Mewah?

Di balik harga, keputusan luxury berisi campuran kualitas, self-reward, identitas, pengalaman, dan status.

Abrur Alaina · 0xTanda Research Lab
8 September 2026
8 Min Read

Seseorang membeli jam setelah menyelesaikan proyek besar. Orang lain memilih tas untuk menandai fase hidup yang baru. Ada pula yang membeli jaket karena materialnya terasa akan bertahan bertahun-tahun. Barangnya berbeda, tetapi masing-masing sedang memberi bentuk pada sesuatu yang sulit dipegang: pencapaian, perubahan, atau rasa puas.

Ketiganya mudah diringkas sebagai konsumsi mahal, padahal keputusan itu bisa memuat kualitas, kesenangan, identitas, pengalaman, dan status sekaligus. Riset tentang luxury consumption memang menemukan lebih dari satu jenis nilai, dengan bobot yang berubah menurut orang dan konteks.[1]

Seseorang menyentuh jam tanpa merek di meja kerja setelah menandai sebuah pencapaian pribadi
Human_Value // Personal Milestone

Jawaban Singkat

Seseorang membeli barang mewah ketika nilai yang ia rasakan cukup besar untuk membenarkan harga premium. Nilai itu dapat bersifat fungsional, personal, sosial, atau berbentuk pengalaman. Beberapa motif dapat bekerja pada saat yang sama, dan tidak ada satu motif yang menjelaskan semua pembeli.

Kerangka multidimensi yang dikembangkan Klaus-Peter Wiedmann, Nadine Hennigs, dan Astrid Siebels memisahkan nilai luxury menjadi aspek sosial, individual, fungsional, dan finansial. Temuannya penting karena keinginan untuk mengesankan orang lain tidak cukup menjelaskan seluruh perilaku konsumsi luxury.[1]

01

Fungsional

Material, konstruksi, kenyamanan, umur pakai, dan layanan purna jual yang dinilai sepadan dengan harga.

02

Personal

Kesenangan, self-reward, penanda pencapaian, serta hubungan benda dengan perjalanan hidup pemiliknya.

03

Sosial

Status, rasa memiliki dalam kelompok, pembeda selera, dan sinyal yang hanya terbaca oleh audiens tertentu.

04

Pengalaman

Pelayanan, perhatian personal, akses, suasana toko, dan memori yang terbentuk di sekitar pembelian.

Apa yang Sebenarnya Disebut Luxury?

Harga tinggi hanya memberi satu petunjuk. Sebuah benda mulai dirasakan sebagai luxury ketika produk, cerita, layanan, akses, dan pengakuan sosial membentuk pengalaman yang sulit diganti oleh pilihan biasa. Karena itu, dua orang dapat melihat barang yang sama dan memberi nilai yang sangat berbeda.

Survei EY Luxury Client Index 2026 terhadap 1.631 pembeli di 11 pasar menunjukkan kualitas material dan heritage masih menjadi dua faktor pembelian teratas dalam sampel tersebut. Namun, survei itu mencatat persepsi responden. Ia tidak membuktikan bahwa setiap barang mahal memiliki kualitas objektif yang lebih baik.[3]

Kualitas yang Ingin Dirasakan dan Dipakai Lama

Bagi sebagian pembeli, alasan pertama cukup konkret: bahan terasa lebih baik, potongan lebih presisi, finishing rapi, dan layanan perbaikan membuat barang punya peluang hidup lebih panjang. Pada EY Luxury Client Index 2025, 71% responden menyebut keinginan memiliki produk berkualitas sebagai pendorong utama. Status disebut oleh 32% responden.[2]

Angka itu tidak membuat kualitas dan status menjadi dua kubu yang terpisah. Satu tas dapat dipilih karena konstruksinya, sekaligus karena nama pembuatnya membawa pengakuan sosial. Pembeli sendiri belum tentu memisahkan kedua dorongan tersebut saat mengambil keputusan.

Harga premium masuk akal bagi pembeli hanya ketika nilai yang dirasakan ikut naik. Nama besar tanpa mutu, layanan, atau relevansi personal membuat jarak antara harga dan nilai semakin terlihat.

Self-Reward Memberi Bentuk pada Pencapaian

Bonus pertama, kelulusan, pekerjaan baru, pulih dari masa sulit, atau ulang tahun tertentu sering terasa abstrak. Sebuah benda dapat menjadi penanda yang disentuh dan dipakai kembali. Inilah sisi self-reward: pembelian mengikat perasaan pada objek yang bertahan setelah momennya lewat.

Penelitian terhadap 587 konsumen oleh Yann Truong dan Rod McColl menemukan hubungan antara motivasi intrinsik dengan pencarian kualitas dan kesenangan yang diarahkan pada diri sendiri. Dorongan internal itu berbeda dari conspicuous consumption, walau keduanya dapat hadir pada kategori produk yang sama.[4]

Studi kualitatif yang terbit online pada 2025 juga melihat self-gifting luxury sebagai pengalaman yang berkaitan dengan reward, penghiburan, nostalgia, dan kesinambungan diri. Temuan ini menarik, tetapi sampelnya hanya empat perempuan di Inggris dalam konteks pandemi. Ia memberi kedalaman cerita, bukan dasar untuk menyimpulkan perilaku populasi luas.[5]

Identitas, Status, dan Siapa yang Membaca

Barang yang dikenakan ikut menyampaikan selera, afiliasi, aspirasi, dan posisi sosial. Status signaling ada, tetapi bentuknya tidak selalu berupa logo besar. Sebuah produk tanpa tanda mencolok dapat bekerja sebagai sinyal yang hanya dikenali orang yang memahami material, potongan, atau kode budaya tertentu.

Young Jee Han, Joseph Nunes, dan Xavier Drèze menunjukkan bahwa preferensi pada logo yang terlihat atau tersembunyi berkaitan dengan kekayaan dan kebutuhan akan status. Sebagian konsumen memilih barang yang mudah dikenali. Sebagian lain membayar lebih untuk sinyal yang hanya terbaca oleh kelompoknya.[6]

Karena makna bergantung pada pemilik dan audiens, label “pamer” sering terlalu cepat. Ia dapat tepat untuk satu pembelian dan meleset pada pembelian lain. Luxury juga dapat dipakai untuk merasa cocok dengan suatu komunitas, menjaga citra profesional, atau menjauh dari identitas yang tidak diinginkan.

Pengalaman Ikut Dibeli

Saat membeli luxury, pembeli bertemu ruang, staf, ritual, pengetahuan, kemasan, layanan, dan perhatian personal selain produknya. Dalam survei EY 2026, 73% responden bersedia membayar untuk pengalaman luxury tertentu, sementara toko milik brand menjadi kanal pembelian terakhir bagi 71% responden.[3]

Laporan McKinsey 2026 yang berfokus pada lebih dari 2.000 klien di Amerika Serikat dan China juga menempatkan emotional connection sebagai pendorong utama desirability dalam dua pasar tersebut. Temuannya tidak bersifat global, tetapi menunjukkan bahwa hubungan dengan identitas, nilai, dan aspirasi dapat mengalahkan penjelasan yang hanya bertumpu pada heritage atau kelangkaan.[7]

Motif Selalu Mengikuti Konteks

Usia, pendapatan, negara, kategori barang, momen hidup, dan siapa yang hadir saat barang digunakan dapat mengubah alasan pembelian. Jam, tas, pakaian, perjalanan, dan layanan hospitality tidak membawa jenis nilai yang sama. Motif yang diucapkan dalam survei pun belum tentu sama dengan dorongan yang bekerja ketika kartu akhirnya digesek.

Batas Konteks Indonesia

Sumber terbaru dalam artikel ini terutama memotret Amerika Serikat, China, Inggris, Eropa, dan sejumlah pasar luxury global. Belum ada dasar yang cukup untuk menyebut angka tersebut sebagai gambaran konsumen Indonesia. Klaim lokal membutuhkan riset pelanggan Indonesia yang terpisah.

Cara paling jujur membaca pembelian luxury adalah melihat empat lapis nilainya: apa yang diperoleh dari fungsi barang, apa yang ditandai bagi diri sendiri, pesan sosial apa yang dibawa, dan pengalaman apa yang menyertai transaksi. Jawabannya bisa berbeda bahkan ketika dua orang membeli produk yang sama.

Sumber & Bacaan Lanjutan

Studi akademik dipakai untuk menjelaskan kerangka psikologis. Survei industri terbaru dipakai sebagai konteks 2025-2026, bukan sebagai gambaran konsumen Indonesia. Diakses 8 September 2026.

  1. [1]Wiedmann, Hennigs & Siebels, Value-Based Segmentation of Luxury Consumption Behavior, 2009
  2. [2]EY Luxury Client Index 2025
  3. [3]EY Luxury Client Index 2026
  4. [4]Truong & McColl, Intrinsic Motivations, Self-Esteem, and Luxury Goods Consumption, 2011
  5. [5]Alloub & Çili, Experiences of Self-Gifting Luxury Fashion during the COVID-19 Pandemic, 2025
  6. [6]Han, Nunes & Drèze, Signaling Status with Luxury Goods, 2010
  7. [7]McKinsey & Company, The State of Luxury: US and China Outlook, 2026